Salah Satu Pelaku Peracik Tembakau Gorila Diamankan di Bandungan

.

Salah Satu Pelaku Peracik Tembakau Gorila Diamankan di Bandungan

Jumat, 17 Juli 2020

Ungaran, Bhayangkaraperdana.com - Gelar Kasus kali ini yang dilaksanakan oleh Polres Semarang di ruang Rupatama Polres Semarang terkait Pengembangan kasus Narkoba jenis Tembakau Gorila yang dilakukan Satuan Narkoba Polres Semarang membuahkan hasil, dengan  membongkar home industri pembuatannya di Gemasan Bandungan Kab. Semarang, Jumat (17/7/2020)

Kapolres Semarang AKBP Gatot Hendro Hartono mengatakan, kronologi penangkapan tersangka Yunus Muhammad Ansor (25) warga Lodoyong Ambarawa yang kos di RW 02 Gamasan, Kelurahan Bandungan, Kecamatan Bandungan yang merupakan pembuat, pengedar sekaligus pemakai tembakau gorila, bermula adanya laporan dari masyarakat diduga adanya peredaran tembakau gorila di kawasan Bandungan. Laporan tersebut dikembangkan hingga petugas menangkap Nike dan Arifin yang diduga sebagai pemakai di depan Indomaret Gamasan, Bandungan.

" Petugas kami menemukan barang bukti tembakau gorila dari kedua pemakai tersebut. Penyelidikan dilanjutkan sampai petugas menangkap Yudha diduga sebagai pelantara jual beli tembakau gorila," terang Kapolres Semarang.

" Dari pengembangan anggota kami hingga berhasil menangkap tersangka Yunus yang kita tangkap di sebuah gudang gas LPG di Ambarawa, namun di situ kita tidak menemukan barang bukti. Baru setelah kita dalami dan tersangka mengakui bahwa barang bukti berada di kosnya, benar adanya petugas kami temukan barang bukti tembakau gorila sekaligus alat dan bahan baku produksinya," jelas AKBP Gatot.

Dalam pengungkapan ini petugas Satuan Narkoba Polres Semarang mengamankan barang bukti, diantaranya 1 bungkus plastik transparan berisi irisan tembakau gorila kering seberat 57,78 gram, 1 bungkus plastik transparan berisi tembakau gorila diduga tipe B sebanyak 434,06 gram, 1 bungkus plastik berisi tembakau kering tipe A seberat 1.665,25 gram, 1 bungkus plastik berisi tembakau gorila kering tipe B sebesar 147,08 gram, 1 amplot coklat berisi serbuk warna orange diduga sebagai bahan fementasi tembakau gorila seberat 2,00444 gram.

Selain itu turut diamankan bahan baku dan alat produksi tembakau gorila diantaranya 2 botol besar kosong warna coklat berisi metanol, panci merek Java, kompor gas listrik, gelas untuk mendidihkan cairan kimia, 480 stiker bertuliskan Golden Barong untuk melebel tembakau gorila produksinya, uang Rp 200 ribu dan lain-lain.

Dalam pemeriksaan tersangka mengaku memproduksi tembakau tersebut dengan mengolah tembakau biasa menjadi tembakau gorila melalui proses fermentasi menggunakan bahan kimia, diantaranya metanol dicampur serbuk diduga salah satu jenis narkorba yang saat ini masih dalam penyelidikan. Keterangan tersangka Yunus bisnis produksi tembakau gorila ini sudah dimulai sejak bulan Mei hingga awal Juli, selama itu ia telah memproduksi sekitar 19 kg tembakau gorila. Setiap gram tembakau gorila produksinya dijual Rp 100 ribu.

Tembakau gorila yang diproduksi di Bandungan tersebut diedarkan tersangka dengan cara dikirim ke pelaku diduga bandar secara online di beberapa daerah di Jawa Tengah hingga sampai ke luar pulau diantaranya Papua, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan DKI Jakarta.

" Selain mengendarkan di wilayah Jateng tersangka juga mengendarkan ke luar propinsi hingga ke luar pulau, diantaranya ke Papua, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan DKI Jakarta. Bandar jaringan narkoba memang biasa menggunakan transaksi lewat online atau HP agar jaringannya terputus," katanya.

" selain itu juga ada bahan baku metanol dan serbuk yang disebut tersangka sebagai biang untuk membuat tembakau gorila. Tersangka menggunakan tembakau biasa diproses fermentasi menjadi tembakau gorila. Bahan baku tersebut tersangka dapatkan dari seseorang diduga sebagai bandar yang dikenalnya lewat instagram dengan nama Phoenix," terang Kapolres.

" Dan atas perbuatannya tersangka dikenakan pasal 114 ayat (1) dan atau pasal 113 ayat (1) UU RI no. 35 tahun 2009 tentang narkotika junto Permenkes RI no 05 tahun 2020 tentang perubahan penggolongan narkoba dengan ancaman hukuman penjara paling lama 20 tahun dan denda sebanyak-banyaknya Rp 1 miliar," tegas Kapolres Semarang.

" Untuk hingga saat ini tersangka Phoenix yang diduga bandar maupun pemasok bahan baku dan biang tembakau gorila masih dalam pengejaran petugas,"imbuhnya.(Bintang)