Mengenal Sosok Mohammad Yamin Tawary.

.

Mengenal Sosok Mohammad Yamin Tawary.

Minggu, 13 September 2020

 

          Doc.Istimewa

HALMAHERA, bhayangkaraperdana.com - Mohammad Yamin Tawary lahir di Desa Gane Luar, Halmahera 28 Oktober 1958, dari ayah berdarah Makean bernama Haji Husen Syaban Tawary dan ibu Hajjah Waini Safar Pune, keturunan campuran Galela dan suku Sawai. 

Ayah Yamin yang bekerja sebagai seorang guru SD mengharuskan keluarga ini hidup berpindah-pindah tempat. Ketika Yamin berusia 2 tahun, keluarga mereka pindah ke Ternate. 

Di Ternate pun, Yamin dan orang tuanya hidup berpindah-pindah tempat. Mulai dari Lelong, pindah ke Sabia, kemudian ke Kelurahan Sangaji, Ternate Utara.

Pada usia Yamin yang ke-7, ayahnya dipindahtugaskan lagi ke Tomajiko dan Faudu di Pulau Hiri. Ketika usia Yamin beranjak 12 tahun, Yamin pindah ke Sangaji dan menetap hingga usianya 22 tahun. Ketika itulah Yamin memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka melanjutkan pendidikan.

PENDIDIKAN, Yamin sebenarnya harus menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di Faudu, tapi menjelang ujian, ayahnya mendaftarkan dirinya di SD Islamiyah III Ternate untuk menamatkan pendidikan. Yamin melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Islam Ternate sebelum akhirnya berlabuh di SP IAIN Filial Ternate.

Waktu terus bergulir, seperti kata Salvador Guillermo Allende Gossens, mantan presiden Chilli itu pernah mengatakan, ‘’Tidak ada yang lebih lapar dari sang waktu, ia akan melahap segalnya". 

Sedari dini, Yamin merupakan sosok yang dididik untuk menjadi pribadi yang disiplin terhadap waktu. Begitu pula dalam bidang pendidikan. Untuk tidak menyia-nyiakan waktu, Yamin memperoleh gelar sarjana mudanya di IAIN Ternate. Ia kemudian meraih pendidikan sarjana strata satu (S1) di Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Jakarta dan berlanjut hingga ke jenjang Magister (S2) pada program studi Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. 

Perjalanan pendidikan Yamin terlus berlanjut hingga kini. Saat ini ia masih tercatat sebagai mahasiswa strata tiga (S3) di Universitas Negeri Jakarta program studi Manajemen Pendidikan.

KELUARGA, Jejak pendidikan Yamin dewasa ini tentu tidak luput dari dukungan orang-orang terdekatnya. Salah satunya adalah sosok cinta sejatinya yang telah hidup berdampingan dengannya selama berpuluh-puluh tahun. Sosok itu adalah Eva Pandu, Sang Istri yang berprofesi sebagai dokter spesialis paru.

Eva merupakan anak dari salah seorang wartawan senior Kompas asal Sumatera Barat bernama Marthias Pandu (Alm.) yang berdarah asli Minang. Pernikahan keduanya melahirkan 3 orang putra dan 1 putri. Mereka adalah dr. Berly, dr. Fikri, dr. Nahda Nasyia Karissa, dan Muhammad Rizki.

Keempat anak mereka mengikuti jejak pendidikan ibunya. Berly, anak pertama, adalah dokter spesialis paru jebolan Universitas Indonesia. Berly kemudian menikahi Putri dan dikaruniai seorang anak bernama Saqueena Areta (Quin). Sehari-hari, Berly bekerja di Rumah Sakit (RS) Pelni Jakarta. 

Anak kedua, dr. Fikri, sekarang masih menempuh pendidikan spesialis jantung di Universitas Indonesia. Ia beristrikan dr. Cherisya, yang berprofesi sama dengannya. Keduanya memiliki seorang putri bernama Leandra. Anak ketiga, dr. Nahda Nasyia Karissa, saat ini sedang menjalani internship di Jawa Barat. Sementara itu, putra bungsu, Muhammad Rizki sedang menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta.

ORGANISASI, Sepak terjang Yamin Tawary dalam dunia organisasi bukan ujug-ujug, ia menempa diri mulai sejak bergiat di OSIS SP IAIN Ternate. Sejak kuliah, Yamin menekuni berbagai organisasi. Di intra kampus, dirinya pernah menjabat sebagai ketua BPM IAIN Ternate dan Senat Fakultas Tarbiyah Muhammadiyah Jakarta.


Di luar kampus, Yamin bergiat di Pelajar Islam Indonesia (PII) Maluku Utara dan Himpuan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate. Ia juga sempat aktif sebagai pengurus Remaja Masjid Kota Ternate dan pengurus Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Maluku Utara.

Keaktifannya di organisasi tingkat daerah membuat sepak terjang Yamin tidak diragukan lagi di tingkat Nasional. Ketika mengenyam pendidikan di Jakarta, Yamin aktif di Pengurus Besar (PB) HMI. Ia resmi menduduki salah satu jabatan strategis dalam struktur PB HMI kala itu.

Pada akhir masa jabatannya di HMI, Yamin aktif di Dewan Pengurus Pusat (DPP) KNPI selama dua periode. Di samping itu, ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), salah satu organisasi sayap partai Golongan Karya (Golkar), dan Pengurus dalam Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) partai Golkar.

Di partai Golkar, Yamin pernah menjadi pengurus harian DPP Partai Golkar. Setelah puluhan tahun dirinya aktif dalam partai berlambang beringin, kemudian memutuskan untuk pindah ke DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo) sebagai Ketua Bidang Politik dan Kebijakan Publik.

KARIR, Puluhan tahun menetap di Jakarta, Yamin sempat bekerja di Kantor Sekretariat Negara sebagai asisten Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) bidang lembaga tinggi/tertinggi negara. Pengabdiannya di kantor Mensesneg mengantarnya terpilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) utusan daerah mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kemudian, ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mewakili Provinsi Jawa Timur, kemudian terpilih kembali menjadi anggota DPR RI mewakili Provinsi Maluku.

Tahun 2004, Yamin turut bertarung sebagai kontestan dalam pemilihan umum secara langsung. Ia maju sebagai calon anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, dan berhasil terpilih. Kala itu, ia juga menjabat sebagai ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Golkar Provinsi Maluku Utara.

Di sela-sela itu, ia sempat menjabat sebagai Komisaris pada beberapa perusahaan swasta, seperti perusahaan energi, perusahaan Bela Grup, hingga terakhir menjabat sebagai Komisaris PT Infratama MNC Group Jakarta.

Dengan berbagai pengalaman itu, Yamin kerap kali menghadiri kegiatan kursus, seminar, maupun kunjungannya ke berbagai negara. Kariernya yang terus berlanjut di bidang politik dan bisnis memaksanya untuk tetap aktif dan up to date. Untuk itu, ia mengikuti berbagai kursus di tingkat nasional maupun internasional. Terakhir, Yamin menjadi peserta kursus administrasi publik (public administration) di London, Inggris.

Perjalanan yang dilakukan Yamin, baik kunjungan resmi DPR RI, organisasi, maupun dan bisnis ke sejumlah negara (Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, China, Hongkong, Arab Saudi, Mesir, Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, Viena, Swedia, Amerika Serikat dan Australia dan beberapa negara Skandinavia) membuatnya belajar banyak hal dan tak henti mengembangkan diri.

NILAI HIDUP, Pada dasarnya, perjalanan kehidupan pria yang menguasai beberapa bahasa lokal Maluku Utara dan bahasa Inggris ini dipengaruhi dua lingkungan kehidupan yang berbeda, yaitu Ternate tempatnya dibesarkan, dan Jakarta sebagai kota yang memberinya peluang untuk merintis karier.

Bagi Yamin, Ternate memperkenalkannya pada tata nilai dan arti kehidupan melalui filosofi mendalam, seperti yang terungkap dalam “adat seatoran matoto agama dan agama matoto kitabullah. Dola bololo seperti kie matubu duka duga jou se fangare, eli eli sosonyinga demo madero afa ua mara cobo salah, toma ua hang moju koa idadi sosira,” sebuah nilai luhur yang bersumber dari Kitabullah.

Keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam menciptakan harmoni dalam “rorasa se bobaso”, nilai-nilai adat se atoran Ternate, dan “Marimoi ngone futuru masidika ngone foruru” yang menandakan persatuan dan kesatuan masyarakat dalam ketaatan pada fatwa seizin Sultan Ternate.

Kehidupan Yamin sebagai perantau di Jakarta sejak 1981 telah menunjukkannya banyak nilai utama dalam hidup, seperti kejujuran, kerja keras, persaingan sehat, menghargai perbedaan, pentingnya membangun jaringan (network) serta persahabatan dengan siapa pun. Pengalaman hidup Yamin membuatnya menjadi pribadi yang memahami bahwa memberi perhatian kepada orang-orang yang mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup adalah hal yang sangat penting. Seraya dengan itu, sangatlah perlu membangun kesadaran terhadap gam madihutu, orang-orang asli daerah untuk maju berkembang. Mereka harus diberdayakan, diberi peran, dan dilindungi agar bisa meningkatkan kesejahteraan secara mandiri.(Mardan).