Dugaan Dalih "Sodaqoh" Untuk Camat, Oknum TKSK Minta Setoran Dari Para Pemilik E Warung.

.

Dugaan Dalih "Sodaqoh" Untuk Camat, Oknum TKSK Minta Setoran Dari Para Pemilik E Warung.

Senin, 16 November 2020

 

Foto : Ilustrasi

Klaten, bhayangkaraperdana.com - Pandemi Covid19 bagi masyarakat secara umum merupakan musibah tetapi bagi seorang oknum petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) bisa jadi merupakan berkah. 

Pada masa pandemi covid19 ini berbagai bentuk bantuan sosial dari pemerintah mengalir deras kepada warga masyarakat yang terdampak covid19 baik secara langsung maupun tidak langsung. Bantuan sosial tersebut bisa berupa Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang mekanisme penyalurannya melalui jaringan Dinas Sosial yang bernama Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK)  yang ada di setiap kecamatan.

Bantuan sosial  Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang berupa beras, telur dan jeruk, untuk pengadaannya diserahkan kepada setiap TKSK dengan menunjuk E Warung yang diselenggarakan oleh warga setempat.

Setiap E Warung melayani antara 25 sampai 100 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang mengambil bantuan pangan non tunai di warungnya. E Warung biasanya adalah warung sembako yang ditunjuk oleh petugas TKSK atau Dinas Sosial untuk kerjasama penyaluran bantuan pangan non tunai.

Dari penelusuran yang dilakukan awak Media bhayangkaraperdana.com di kecamatan Pedan Kabupaten Klaten, didapatkan informasi bahwa ada seorang oknum TKSK di kecamatan Pedan, diduga telah melakukan praktek pungli (pungutan liar) kepada setiap keluarga penerima manfaat (KPM) pada setiap penyaluran bantuan pangan non tunai (BPNT) setiap bulan. Pungutan tersebut besarnya untuk setiap KPM adalah berkisar 8 sampai 10 ribu rupiah.

 Selain melakukan pungutan kepada KPM, oknum tersebut diduga juga meminta uang setoran dari para pemilik E warung yang melayani pengambilan bantuan pangan non tunai oleh KPM yang besarannya antara 150 ribu sampai 200 ribu rupiah untuk masing masing E warung. 

Sebagai informasi, di kecamatan Pedan kabupaten Klaten ada sepuluh E warung yang melayani pengambilan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Menurut salah satu pemilik E warung di kecamatan Pedan yang tidak bersedia disebut namanya, oknum TKSK tersebut suka mengancam akan mencoret nama KPM dari daftar sebagai penerima bantuan bila tidak bersedia membayar pungutan tersebut. 

"Bukan hanya kepada para KPM mas, oknum TKSK tadi juga sering mengancam kami (para pemilik E warung) bila tidak setor uang ke dia. Dia ngancam akan memindahkan para KPM agar mengambil bantuan pangan non tunai nya ke toko yang lain.." ungkap seorang warga Pedan, pemilik  E warung.

"Katanya uang yang dikumpulkan dari para pemilik e warung tersebut akan disodaqohkan kepada camat.." tambahnya.

"Jadi bukan aneh lagi mas di sini bila e warung yang melayani warga KPM itu berganti ganti. Bahkan jangan heran juga, jika ada E warung yang  hanya buka setiap bulan pas BPNT nya turun..." tambah warga tersebut.

Salah seorang warga, yang juga tokoh masyarakat di Pedan yang keberatan identitasnya disebut bahkan mensinyalir ada beberapa E warung di kecamatan Pedan itu adalah E warung fiktif,  pemiliknya adalah si petugas pendamping atau saudara si pendamping itu.

" masa E warung kok bukanya hanya setiap penyaluran bantuan. Mestinya E warung itu seperti  toko atau minimarket yang buka setiap hari. Kalau seorang pendamping sampai memiliki E warung sendiri dan melayani warga yang mestinya didampingi, itu saya kira sebagai modus untuk memperkaya diri." ungkap warga tersebut.

" Rasanya kok aneh, berapa sih gaji seorang pendamping kok dalam beberapa bulan ini saja sudah bisa membeli mobil baru yang harganya ratusan juta." lanjut si bapak tadi.

Sementara petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Pedan, Didik Suharyono saat dikonfirmasi Media bhayangkaraperdana.com lewat aplikasi Whatsapp membantah semua informasi tersebut tidak benar kilahnya. "Informasi soal adanya pungutan kepada para KPM itu tidak benar pak  Tidak ada pungutan sama sekali, " ujar Didik 

" Akan tetapi itu udah ada OMU dari suppleyer ke pihak E warung   berapa kg beras, telur berapa butir,dan buah jeruk berapa butir  saya cuma melakukan pendampingan   pak, "  tambah didik lewat telp whatshapnya. (ang.s).