Senopati Agung Lawu Persatukan Nusantara Tepung Gelang Jawa-Anambas.

.

Senopati Agung Lawu Persatukan Nusantara Tepung Gelang Jawa-Anambas.

Jumat, 19 Maret 2021
H.Moh.Rohkim Senopati Agung Lawu Kraton Purwo Nyoto Karanganyar, Jawa Tengah


 Laporan : Heri//WND


SRAGEN, bhayangkaraperdana.com - H.Moh.Rohkim Senopati Agung Lawu Kraton Purwo Nyoto Karanganyar, Jawa Tengah melakukan ritual khusus menyatukan kembali tanah pesisir Jawa bagian Utara sampai Kepulauan Anambas. Kamis (18/3/2021).

Perjalanan spiritual ditandai dengan penyerahan tongkat komando Datuk Panglima Tampang Kelang Gunung Datuk yang didukung berbagai sesepuh pemangku adat diantaranya Datuk Panglima Tampang Kelang dari gunung Datuk pulau Jemaja, Datuk Panglima Hulu Balang Putih dari Gunung Tujuh, Panglima Ragam dari Pantai Bedengung, Datuk Genduang dari Lembah Sari Subur, juga Datuk Keramat.

Kehadiran H.Moh.Rokhim yang juga selaku ketua umum PBH LIDIK KRIMSUS RI di kabupaten kepulauan Anambas disambut hangat keluarga besar  Paguyuban Keluarga Wong Jowo (Pakuwojo) Anambas, dimana paguyuban tersebut mulai berdiri pada tahun 2008.

Setiyatim ketua Pakuwojo Anambas menjelaskan dengan bersamaan terbentuknya Kabupaten Kepulauan Anambas hingga saat ini usia Pakuwojo sama dengan usia pemekaran Kabupaten Kepulauan Anambas.

Terbentuknya Pakuwojo Anambas merupakan suatu Rahmat dari yang Maha Kuasa atas terbukanya hati masyarakat Jawa di Kabupaten Kepulauan Anambas untuk melebur didalam sebuah wadah organisasi kekerabatan Jawa di Kabupaten Kepulauan Anambas.

Keberadaan masyarakat Jawa di Kabupaten Kepulauan Anambas ini dimulai pada Tahun 1989 (transmigrasi lokal) dan diperkirakan pada tahun 1990 sudah mulai didatangkan dari Pulau Jawa. Perkiraan masyarakat Jawa yang ikut program transmigrasi diperkirakan sebanyak 400 KK. Seiring dengan sulitnya pemasaran hasil produksi pertanian akibat keterisolasian wilayah, maka banyak masyarakat Jawa beralih profesi menjadi nelayan dan melupakan kearifan pertanian program pemerintah masa itu, dengan semakin terbukanya komunikasi pada era ini, maka kerinduan masyarakat Jawa perantauan khususnya di Kabupaten Kepulauan Anambas, telah menggugah hati mereka untuk bersatu pada sebuah wadah bernama Pakuwojo.

Pakuwojo Kabupaten Kepulauan Anambas masih eksis dengan segala keterbatasanya, untuk selalu bisa menjaga dan melestarikan adat istiadat jawa ke generasi mudanya, dibutuhkan strategi penambahan kuwantitas dan kuwalitas berorganisasi sosial budaya.

Pakuwojo Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan harapan masyarakat Jawa perantauan sebagai pelepas kerinduan terhadap seni budaya Jawa, Setiyatim menuturkan.