Tidak Terima Putrinya Dilecehkan, Pelaku Melakukan Penganiyaan Dengan Kekerasan Bersama - Sama Terhadap 8 orang Pemuda

.

Tidak Terima Putrinya Dilecehkan, Pelaku Melakukan Penganiyaan Dengan Kekerasan Bersama - Sama Terhadap 8 orang Pemuda

Selasa, 05 Oktober 2021

 

Kapolres Semarang, AKBP Yovan Fatika Handhiska Aprilaya Saat konferensi pers


Laporan. : Bintang | Kontributor

Editor.     : Arie


UNGARAN, bhayangkaraperdana.com - Polres Semarang melaksanakan Konferensi Pers terkait Kasus dugaan penganiayaan terhadap sejumlah pemuda di sasana olahraga JD Ashter di Dusun Gandekan RW 06, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Selasa (5/10/2021).


 5 (lima) orang pelaku, yang diamankan Satuan Reserse dan Kriminal Polres Semarang yakni berinisial EJS, RUP, IWP, H dan P, masing-masing warga Kelurahan Harjosari. Sedangkan, 2 orang lainnya berinisial P dan D dinyatakan masih buron.


Mereka (pelaku) diduga melakukan penganiayaan terhadap 8 orang pemuda warga Desa Poncoruso, Kecamatan Bawen secara bersama-sama. Masing-masing korban berinisial AL (20), B (16), R (15), N (17), I (17), B (17), W (17), dan LA (17).

Kelima pelaku saat ini ditahan di Mapolres Semarang, Sedangkan 2 dua lainnya dalam pengejaran anggota Sat Reskrim Polres Semarang. 


Kapolres Semarang AKBP Yovan Fatika Handhiska Aprilaya yang didampingi Kasatreskrim AKP Tegar Satrio Wicaksono beserta Kasubag Humas  AKP Sugiyarta menjelaskan, penganiayaan dilakukan oleh para pelaku diduga dilatarbelakangi tuduhan pelecehan seksual dilakukan para korban terhadap putri kandung salah satu pelaku IWP, saat berada di ruang ganti Kolam Renang Glodokan, Dusun Glodokan, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Bawen.


" Kasus ini dilaporkan  oleh salah satu korban penganiayaan yaitu AL, dia melaporkan bersama 7 temannya yang dianiaya oleh sekelompok orang, yakni para pelaku, di sasana olahraga JD Asther Harjosari. Para korban dipukuli juga perkusi," jelas AKBP Yovan. 


Dijelaskan Kapolres Semarang bahwa kronologi kejadian bermula pada Jumat (10/9/2021) sekitar pukul 13.00 pelapor dan korban lainnya berenang di kolam renang Glodokan. Pelapor dan para korban berniat ganti baju ke kamar mandi.


" Karena kamar mandi tidak ada kuncinya, korban mendorong salah satu pintu kamar mandi, ternyata di dalam ada seorang perempuan yang juga sedang ganti baju," ujar Kapolres Semarang


" Diduga karena kaget, perempuan yang di dalam mendorong pintu dengan keras hingga jari tangan korban terjepit. Korban balas mendorong pintu kamar mandi bermaksud melepaskan jari tangannya yang terjepit. Hingga terjadi dorong-mendorong," katanya.


" Setelah kejadian tersebut korban bermaksud meminta maaf, namun perempuan tersebut terburu-buru pulang. Pelapor dan korban kemudian pindah ke kamar mandi lain untuk ganti baju," jelas AKBP Yovan.


Pada esok harinya Sabtu (11/9/2021) sekitar pukul 13.00 pelapor bersama para korban yang seluruhnya berjumlah 8 orang, didatangi kakak dari si perempuan dan dikumpulkan di sasana olahraga JD Asther. Di sana sudah berkumpul para pelaku dan juga beberapa orang lainnya.


" Di sana korban dianiaya para pelaku dan teman-temannya. Korban ditendang, dipersekusi dengan diludahi, disuruh menirukan gaya hewan, merayap di lantai dan dilumuri pembersih kamar mandi (Wipol)," kata Kapolres.


" Penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku dinilai menyebabkan para korban mengalami luka-luka di bagian punggung, muka dan bagian tubuh lainnya. Pasalnya, mereka juga dipukuli dengan sarung tinju dan dipukuli menggunakan tongkat rotan," imbuhnya.


Kapolres Semarang AKBP Yovan Fatika  memintai keterangan tersangka IWP, salah satu pelaku dugaan penganiayaan terhadap 8 orang pemuda di Mapolres Semarang, Kejadian diduga dilatari dendam para pelaku terhadap pelapor dan teman-temannya yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap putri pelaku IWP, hingga kedelapan korban dianiaya pelaku IWP bersama-sama dengan pelaku lainnya.


" Anak saya mengalami trauma berat. Dulu ia selalu rangking kelas. Mereka (korban) keterlaluan terhadap anak saya. Saat pintu kamar mandi didorong para korban, anak saya sudah menangis dan berteriak histeris. Tapi pintu terus didorong hingga tangan salah satu korban masuk ke dalam kamar mandi mengenai bagian terlarang anak saya," ucap IWP yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Salatiga ini sambil menangis sesenggukan.


" Para pelaku ini dijerat dengan pasal 170 KUHP tindak pidana Dimuka umum secara bersama - sama melakukan kekerasan terhadap orang dengan ancaman 5 tahun penjara, dan pasal 76C jo pasal 60 Undang-Undang RI nomor 38 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 3 tahun penjara, dan para pelaku lainnya yaitu 2 yang menjadi DPO, kami harap menyerahkan diri, atau kami akan menindak dengan tegas," tegas Kapolres Semarang.