Hakim PN Salatiga Tolak Gugatan Anak Terhadap Ayah Kandung.

.

Hakim PN Salatiga Tolak Gugatan Anak Terhadap Ayah Kandung.

Kamis, 17 Februari 2022
Ket foto :Tergugat Marno (baju coklat-berdiri) didampingi tim penasehat hukum dari Kantor Advokat ‘FAST & Associates’ tunjukkan amar putusan. 
(Foto Heru)


 SALATIGA, Bhayangkaraperdana.com -  Sidang kasus dua anak kandung menggugat orangtuanya di Pengadilan Negeri (PN) Salatiga yang tercatat dengan Nomor 102/Pdt.G/2021/PN Slt dipimpin Hakim Ketua Yustisia Permatasari SH dengan anggota Jefry Bimusu SH dan Devita Wisnu Wardhani SH telah menolak gugatan yang diajukan kakak beradik Dian Ayu Febriana (24) dan Dion Bagas Setyawan (23) keduanya warga Sarirejo RT 02 RW 09, Kel Sidorejo Lor, Kec Sdorejo, Kota Salatiga. 


Dalam amar putusannya, Mengabulkan eksepsi tergugat dan turut tergugat, Menyatakan Pengadilan Negeri (PN) Salatiga tidak berwenang mengadili perkara ini, serta Menghukum para penggugat untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp 280.000. Dalam gugataan itu, kakak beradik Dian dan Dion memberikan kuasa kepada Mohammad Sofyan SH dan rekan menggugat Marno dan istri Okti Melvi Saputri. Tergugat Marno memberikan kuasa kepada Ign S Kuncoro SH MH, H Handyar Rhaditya SH CIL, D Eridho Harestrinanda SH dan Budi Sulistya Aji SH dari Kantor Advokat dan Konsultan Hukum ”FAST & Associates” Salatiga. 


Ign S Kuncoro SH MH, kuasa hukum Marno mengatakan, pihaknya menghormati keputusan dari majelis hakim PN Salatiga dan ini sesuai dengan eksepsi yang diajukannya. Bahwa PN Salatiga tidak berwenang untuk mengadili dalam permintaan nafkah anak, alasannya bahwa gugatan itu harusnya dimulai dari Pengadilan Agama (PA) Salatiga. Selain itu, 

gugatan tersebut sangat tidak wajar dan terlalu mengada-ada serta terlalu tinggi tuntutannya yaitu sebesar Rp 6,75 Miliar. Sebelumnya, dalam mediasi juga mengalami jalan buntu dan dinyatakan gagal.


“Dalam mediasi sebelumnya, yang dilakukan sebanyak tiga kali ternyata mengalami kebuntuan dan dinyatakan gagal. Karena permintaan ganti rugi berupa materiil dan immaterial yang jumlahnya Rp 6.750.000.000 atau Rp 6,75 miliar adalah terlalu tinggi dan tidak wajar serta mengada-ada. Sehingga, tergugat dan turut tergugat merasa tidak mampu. Bahkan ada permintaan yang sangat aneh yaitu penggugat ingin melanjutkan kuliahnya di Australia serta minta deposit sebesar Rp 300.000.000 per bulannya. Dari sini, sangat jelas mengada-ada dan apakah benar punya kemampuan dalam Bahasa Inggris maupun yang lain jika ingin kuliah di Australia,” kata Ucok, demikian biasa disapa dari Ign S Kuncoro SH MH. 


Menurutnya, jika memang mau kuliah di Australia dan minta deposit Rp 300 juta tiap bulan, itu darimana perhitungannya. Apakah ini sudah sesuai dengan kemampuan penggugat. Hal ini dilihat dari pendidikannya apa dan dimana, apakah bisa bahasa inggris serta apakah benar sudah lulus dari SMA. Karena, pihaknya selaku penasehat hukum telah melacak saat penggugat sekolah di Solo maupun Ambarawa. Sedangkan, adiknya sekolahnya tidak selesai dari SMP di Salatiga. 


Menurutnya, bahwa Marno (tergugat) selaku ayah kandung kedua penggugat Dian dan Dion tetap sanggup memerhatikan kebutuhan anak-anaknya. Begitu juga siap untuk membantu keperluan dan kebutuhan sesuai dengan kemampuan. Jika kedua penggugat selama ini mengaku telah ditelantarkan oleh ayah kandungnya, ungakap tersebut adalah tidak benar. 


“Dari kasus ini, selaku penasehat hukum tergugat dan turut tergugat berharap supaya hubungan anak dan orangtua dapat terjalin kembali dengan baik. Serta saling menjaga silaturahmi karena istilah mantan anak, mantan bapak itu tidak ada sehingga anak mempunyai kewajiban menghormati kepada orangtuanya,” tandas Ucok didampingi Budi Sulistya  Aji SH, Handyar Raditya SH dan Ricky Febrian SH di Kantor Law Office “FAST & Associates” Jalan Tanjung No 8C, Kalicacing, Kec Sidomukti, Kota Salatiga. (Ar/Heru).